Rabu, 19 Maret 2014

Can Do/Will Do Chart untuk menganalisis Kebijakan terhadap Karyawan secara Kompetensi dan Attitude.

Dalam suatu organisasi, kinerja karyawan dalam melakukan pekerjaannya berbeda-beda. Ada yang memang kinerjanya kurang atau dibawah rata-rata dari karyawan yang sejajar kedudukannya, lalu ada juga yang biasa atau sedang-sedang saja, kemudian karyawan yang kinerjanya diatas rata-rata karyawan yang lainnya.

Sebelumnya mari kita lihat dulu sistem penggajian karyawan secara umum, yaitu 3P :
  1. Pay for Position : karyawan dibayar sesuai deskripsi pekerjaannya dan posisi/jabatannya.
  2. Pay for People : karyawan dibayar karena kemampuan spesialisasinya, artinya orang tersebut memiliki kelebihan yang jarang atau bahkan tidak dimiliki oleh karyawan lainnya.
  3. Pay for Performance : karyawan akan dibayar karena prestasi kinerjanya yang baik.
Dengan melihat 3P di atas, berarti karyawan yang berada di atas rata-rata kinerjanya tersebut patut untuk diberikan bonus atas prestasinya. Sehingga karyawan tersebut akan termotivasi kembali untuk memberikan yang terbaik bagi perusahannya.

Untuk mengukur kinerja dari tingkat karyawan/individu sampai dengan organisasi, salah satu alat yang saat ini masih banyak digunakan di organisasi pemerintah maupun swasta adalah Balanced Scorecard (BSC). Kali ini saya tidak akan membahas BSC, namun kita akan melihat cara/langkah apa yang harus kita lakukan agar kinerja karyawan yang tadinya sedang-sedang saja ataupun yang kinerjanya rendah dapat kita tingkatkan, atau bisa juga untuk menentukan kebijakan selanjutnya bagi para pimpinan organisasi terkait karyawan tersebut dan juga faktor lain seperti attitude dalam bekerja. Untuk mengetahui apa itu BSC silakan dapat melihat tulisan menarik disini : http://strategy4management.wordpress.com/2013/08/05/catatan-tentang-balanced-scorecard/

Lalu muncullah pertanyan bagi organisasi tersebut, apa yang harus kita lakukan mengenai karyawan yang hanya memiliki kinerja buruk atau sedang-sedang saja dan bagaimana dengan masalah attitude, karena bisa jadi kinerja baik namun pelanggan tidak kembali lagi gara-gara karyawan tersebut bermasalah dengan attitude-nya. Dengan kata lain, organisasi tersebut tidak mau karyawan-karyawan tersebut malah menjadi beban bagi organisasi karena tidak memberikan kinerja dan citra yang baik untuk kemajuan organisasi. Jawabannya tentu saja tergantung kepada kebijakan organisasi, apakah diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri atau adanya Diklat (Pendidikan dan Pelatihan), diberhentikan, atau juga diturunkan gaji atau jabatannya.

Agar kebijakan tersebut memiliki alasan dan dapat dipertanggung jawabkan penilaiannya. Terdapat suatu alat analisis kinerja untuk dapat membantu memetakan kinerja karyawan dan faktor attitude yang disebut dengan Can Do/Will Do chart oleh Kenneth Carlton Cooper (2000). Can do adalah kolom untuk memetakan apakah karyawan tersebut secara kompetensi sesuai dengan kualifikasi yang diperlukan. Can Do/Can't Do terkait erat dengan kompetensi atau skill. Kemudian kolom Will Do menunjukkan bahwa karyawan tersebut membutuhkan motivasi ataupun masukkan mengenai pekerjaannya. Will Do/Won't Do tidak terkait dengan kompetensi tapi terkait pada attitude (tulisan saya mengenai attitude dapat dibaca disini : http://bambangwarsuta.blogspot.com/2011/01/positive-attitude-vs-negative-attitude.html).

CAN DO / WILL DO 


Dari chart tersebut, kita dapat melihat beberapa alternatif sebagai berikut :
  • Can Do/Will Do. Ini merupakan situasi yang ideal, dimana karyawan memiliki kualifikasi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan memiliki attitude yang baik terhadap pekerjaannya. 
  • Cannot Do/Will Do. Disini karyawan memiliki masalah skill sehingga diperlukan pendidikan dan pelatihan.
  • Can Do/Won’t Do. Pada posisi ini, karyawan secara kualifikasi atau skill tidak ada masalah. Namun bermasalah untuk motivasi (terkait attitude) dalam mengerjakan pekerjaannya. Sehingga diperlukan komunikasi langsung untuk mencari solusi mengenai permasalahan motivasinya.
  • Cannot Do/Won’t Do. Terakhir adalah tidak punya kualifikasi yang diperlukan dan tidak memiliki motivasi. Disini organisasi harus cepat memutuskan, apakah akan tetap dipertahankan dengan memberikan motivasi, pendidikan dan pelatihan, atau mencari karyawan yang baru.
    Tentunya untuk dapat mengisikan dimana posisi masing-masing kolom tersebut diperlukan analisis yang lebih mendalam untuk menilai kinerjanya maupun attitude dengan menggunakan alat analisis lainnya. Sehingga, dari chart Can Do/Will Do tersebut organisasi bisa melihat langsung posisi masing-masing karyawannya dan memberikan kebijakan apa yang akan diberikan kepada karyawan tersebut. Semoga bermanfaat.

    Salam,
    Bambang Warsuta

    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar