Senin, 03 Februari 2014

Sosial Media Sebagai Alat Strategis Organisasi

Mulai dari melihat judulnya saja sudah menarik bukan? ya walaupun memang bukan hal baru, namun topik ini masih cukup hangat untuk terus diperbincangkan dan dibahas. Bahkan, berbagai riset mengenai sosial media sampai saat ini pun masih banyak dilakukan, baik untuk tujuan akademis maupun sebagai salah satu faktor penentu pengambilan kebijakan untuk strategi organisasi, khususnya untuk strategi pemasaran.

Mengapa strategi pemasaran, karena salah satu tujuan dari pemasaran adalah tersosialisasinya produk dengan baik kepada pelanggan sehingga dapat menghasilkan pendapatan bagi organisasi. Tidak hanya masalah sosialisasi, bahkan sosial media dapat digunakan juga sebagai alat pendukung untuk melakukan riset analisis kepuasan pelanggan.

Berbicara mengenai riset kepuasan pelanggan (customer satisfaction),  riset ini memang membutuhkan biaya yg relatif besar. Namun, biaya tersebut akan menjadi lebih kecil dibandingkan kesalahan karena kekeliruan dalam memahami selera konsumen sehingga menelan biaya yg lebih besar untuk memperbaikinya. Hal ini tidak jarang terjadi pada perusahaan besar yg pada akhirnya mereka menelan kerugian yang besar. Jadi, bagi organisasi berorientasi kepada pelanggan, sebaiknya riset ini perlu dilakukan sebagai strategic tools bagi organisasi.

Kembali ke topik utama kita, secara sederhana tujuan utama dari sosial media adalah media untuk melakukan sosialisasi, dimana hal ini akan mendukung strategi pemasaran.

Mengapa sosial media? menurut buku The Social Media Bible yang merupakan referensi inspiratif dari penulisan pada blog ini.
"The reason social media is so much more effective than the conventional marketing that we’ve done for the last 6,000 years is that it’s two-way communication, not pontification."
Artinya, khalayak saat ini sudah tidak percaya lagi dengan adanya iklan-iklan dimedia cetak, televisi, radio dan media lainnya yang hanya mengandalkan komunikasi satu arah. Disini perubahan paradigma terjadi, kenapa?
"They don’t trust and don’t want to hear our commercials any longer. They want their information from people they know, have a relationship with, and share a bond with through trust. They want to be educated by, hear their news from, and get their product reviews by people they know and trust. They want to share their experiences, both good and bad, with people who trust them"
Disini sudah pasti jawabannya adalah masalah sosial, komunikasi dua arah merupakan faktor utama kepercayaan dari pelanggan terhadap suatu produk, sehingga mereka ingin ikut dilibatkan.

Lalu apa yang harus dilakukan sekarang ini bagi kita pemilik atau pendukung organisasi agar tidak terjebak dengan paradigma yang lama. Ada lima tahapan untuk dapat menjawab apa yang mereka inginkan.

Berikut Lima tahapan untuk kesuksesan pemasaran menggunakan sosial media sebagai alat strategis Organisasi :
  1. Tahap 1 : Lakukan analisis media yang anda miliki saat ini, sebagai permulaan kita harus melihat kembali media konvensional pemasaran yang kita miliki saat ini, baik melalui iklan dikoran, majalah, radio, televisi, billboards, direct email, atau apapun itu. Lalu kita lakukan analisa dengan mengajukan pertanyaan, "apakah media yang saat ini ada sebagai alat untuk pemasaran tersebut sudah efektif untuk mendukung strategi perusahaan anda?". Pada tahap ini kita harus benar-benar melakukan analisis pengukuran secara komprehensif untuk mengetahui media apa saja yang perlu kita pertahankan dan yang perlu kita eliminasi. Karena, jika kita tidak melakukan analisis ini, maka jangan-jangan biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran ini, hanya pengeluaran semata dan tidak memberikan hasil yang signifikan bagi perusahaan. 
  2. Tahap 2 : The Social Media Trinity, kita perlu mengetahui 90% manfaat dan kegunaan dari tiga media sosial dibawah ini untuk mendukung strategi perusahaan, interaksi sangatlah penting disini untuk membangun kepercayaan, mendengar dan merasakan apa yang pelanggan inginkan salah satunya sebagai fasilitas untuk berbagi pengalaman baik atau buruk dari pelanggan kepada pelanggan lainnya terhadap produk kita :
    • Blogging, tentukan strategi untuk menarik perhatian target audience perusahaan anda. Kualitas konten sangatlah penting untuk membangun image yang baik bagi perusahaan anda, dengan membangun image yang baik maka brand organisasi / perusahaan anda akan baik pula. bedanya image dengan brand apa yah? silakan masuk ke blog ini untuk melihat perbedaannya.
    • Microblogging (Twitter), siapa yang tidak kenal twitter, 140 karakter yang mengubah dunia, tidak berlebihan karena kalau kita lihat saat ini, hampir semua organisasi / perusahaan maupun publik figur menggunakan fasilitas berkicau dari burung biru ini. Jumlah followers dapat menjadi tolak ukur kesuksesan brand dari sang pemilik akun. Kembali lagi, konten dan strategi yang tepat diperlukan untuk mengelola akun twitter ini. Tulisan menarik mengenai riset untuk melihat keterkaitan antara twitter dengan meningkatnya rating dan share acara televisi, silakan klik disini 
    • Social Networks, terakhir adalah jejaring sosial, berbagai situ jejaring sosial muncul dengan berbagai macam tujuan seperti, youtube untuk menyaring pecinta video, facebook sebagai sarana pertemanan, linked in untuk jejaring profesional, MySpace, reverbnation dan Soundcloud sebagai fasilitas untuk pencinta musik dan sebagainya. Kita tinggal memanfaatkan dan memberikan strategi yang tepat untuk mendukung strategi pemasaran.  
  3. Tahap 3 : Integrasikan Strategi, setelah kita melakukan tahapan 1 dan 2, berikutnya adalah lakukan integrasi antara strategi konvensional dengan social media trinity keduanya sebagai strategi organisasi / perusahaan. Lakukanlah integrasi ini secara komprehensif demi mendapatkan strategi yang membuat kita merasa tertantang dan keluar dari zona aman. Karena jika dengan strategi tersebut kita merasa aman dan nyaman, itu bukanlah strategi.
  4. Tahap 4 : Identifikasi sumber daya, setelah melalui tahapan ke 3, maka langkah selanjutnya adalah, siapakah yang bertanggung jawab untuk mengeksekusi strategi yang mengkombinasikan metode konvensional dan sosial media tersebut? artinya kita memang memerlukan perekrutan disini. Muncul pertanyaan kembali, lalu ini sama artinya dengan menambah pengeluaran dong? sebetulnya sudah terjawab di tahap pertama sebagai salah satu cara, yaitu dengan melihat hasil dari analisis media yang tidak memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pemasukan atau bahkan tidak sama sekali memberikan kontribusi, maka disinilah alokasi dana yang tepat dapat dialihkan untuk mendukung strategi baru.
  5. Tahap 5 : Implementasikan dan lakukan pengukuran, tahap terakhir adalah melakukan implementasi dari semua tahapan yang telah dipersiapkan. Pada tahap ini, diperlukan komitmen dari semua elemen yang tergabung dan konsistensi untuk pencapaian tujuan. Memang membutuhkan waktu yang cukup banyak agar semua dapat terimplementasi dengan baik, oleh karena itu diperlukan suatu evaluasi, entah itu per bulan, semester, atau kuartal. Agar evaluasi dapat dilakukan, maka diperlukan suatu ukuran untuk melihat pencapaian dari apa yang telah diimplementasikan. Alat untuk mengukur pencapaian dengan menggunakan sosial media, tidaklah sesulit dibandingkan dengan konvensional. Sebagai contoh, saat ini terdapat google analytics yang dapat membantu untuk menganalisis website atau blog kita mulai dari traffic pengunjung sampai dengan untuk menghitung ROI (Return Of Investment). Contoh lainnya adalah seperti twitter dengan twitalyzer , tulisan mengenai alat untuk mengukur performa akun twitter dapat dibaca disini atau juga untuk facebook dapat dibaca disini.
Semoga gambaran singkat dan padat mengenai sosial media sebagai alat strategis organisasi dapat bermanfaat untuk ditindaklanjuti.

Salam,
Bambang Warsuta

Selasa, 28 Januari 2014

Seberapa jauhkah tingkat pengetahuan kita terhadap sumber pengetahuan?

Knowledge, atau terjemahannya dalam bahasa Indonesia, yaitu ilmu pengetahuan atau pengetahuan sangat sering kita dengar. Knowledge yang merupakan salah satu komponen dasar untuk kompetensi sangatlah penting bagi siapapun baik untuk professional, akademisi, petani, nelayan, dan profesi-profesi lainnya. Knowledge bisa kita dapatkan dengan berbagai macam cara, namun cara yang paling ampuh menurut saya adalah dengan cara membaca buku. Jadi kata kunci untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan membaca. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW agar kita membaca Al-Quran, BACALAH!

Fokus kepada judul tulisan ini, muncul pertanyaan, pernahkah kita mengukur diri kita tentang seberapa jauh tingkat pengetahuan kita terhadap sesuatu dari sumber pengetahuan?

Untuk dapat mengetahuinya, suatu organisasi CA-IT menerbitkan paper mengenai IT Competency Map, dimana di dalam paper tersebut mereka membagi menjadi 3 tingkatan atau disebut dengan Three Levels Of Knowledge. Sebagai Informasi, CA-IT merupakan organisasi aliansi untuk teknologi informasi yang berpusat di Toronto. Sekarang mari kita lihat :

Three Levels Of Knowledge :
  1. Core, pada level ini pengetahuan yang didapatkan sudah pada tahap memahami, mampu mengidentifikasi, dan mendeskripsikan kembali intisari dari sumber pengetahuan yang dipelajarinya.
  2. Metric, disini tahapan core sudah terlewati sehingga sudah pada tingkat mampu menentukan, menilai dan menganalisis dari sumber pengetahuan yang didapatkannya. Sehingga sudah dapat mengetahui manfaat, kelebihan ataupun kekurangan dari sumber pengetahuan yang didapatkannya.
  3. Advisory, level terakhir pengetahuan ini menunjukan bahwa pengetahuan dengan dasar core dan metric yang dimiliki sudah digunakan sebagai alat untuk memberikan nasihat (advisory) untuk memecahkan suatu masalah. 
Sebagai seorang konsultan manajemen di Value Alignment Advisory dan juga dosen pengajar di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta, saya wajib untuk terus meningkatkan pengetahuan sebagai salah satu syarat utama kompetensi yang harus dimiliki. Sebagai konsultan, level advisory wajib dimiliki karena kita dituntut untuk memecahkan permasalahan-permasalahan terkait isu manajemen yang ada di organisasi. Sebagai dosen pengajar, tentunya bidang keilmuan yang diajarkan harus mampu mengikuti perkembangan yang ada agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan terbaru sebagai bekal mereka di industri kerja nanti.

Maka, suatu kewajiban juga bagi siapapun dengan profesi apapun untuk selalu meningkatkan pengetahuannya, karena ketika kita berhenti untuk menggali pengetahuan, maka pada sebatas itulah pengetahuan dan kompetensi kita berhenti. Dan bisa-bisa posisi kita yang ada dan nyaman saat ini digantikan oleh orang lain yang berwawasan pengetahuan yg lebih luas dan kompeten.

Salam,
Bambang Warsuta

Selasa, 14 Januari 2014

Selamat tahun baru 2014 -- Tahun Baru dengan Resolusi Baru

Setelah lama sekali tidak menyentuh blog ini, akhirnya saya memutuskan untuk kembali mengisi lembaran-lembaran halaman di blog ini.

Banyak hal yang telah terjadi dan terlewati seiring berjalannya waktu namun tidak tertuangkan dalam blog ini. Dimulai dari dimulainya karir saya sebagai konsultan manajemen di perusahaan jasa konsultasi Value Alignment Advisory, kemudian ditahun pada 6 Oktober 2013 saya mulai menempuh hidup baru sebagai Suami dari seorang perempuan bernama Annisa Riani.

Oia, Sebelumnya, saya mengucapkan selamat tahun baru 2014, walaupun sudah 15 hari yang lalu berlalu. Sukses untuk semuanya.

Tahun baru dengan resolusi baru, ya ini hal yang umum sekali dengan datangnya tahun yang baru, melihat kembali resolusi saya tahun 2013 sebagian besar sudah tercapai, terutama menikah pada tahun tersebut dan mendapatkan pekerjaan yang menjadi passion saya yaitu sebagai konsultan.

Resolusi 2014, banyak sekali rencana pada tahun ini, diantaranya mulai aktif kembali menulis diblog ini untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman saya baik di dunia konsultasi maupun sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta untuk program studi Teknik Informatika di Fakultas Ilmu Komputer. Selain itu, saya ingin berbagi juga mengenai musik, salah satu tulisan saya di blog ini mengenai Setup Drum Pribadi saya.

Mari kita mulai mengisi kembali lembaran-lembaran blog ini dengan banyak hal yang tentunya bermanfaat untuk kita semua... Aamiin.

Salam,
Bambang Warsuta